Your Ad Here

Selasa, 10 Februari 2009

CERPEN

Awal Kemenangan

Sang merah putih berkibar diterpa angin. Ratusan pelajar SD Altavia 1 berdiri tegak menghadap tiang bendera nan tinggi menggapai langit. Jauh di cakrawala, mentari menyaksikan kegiatan mereka. Semburat bayang-bayang menapak di tanah lapang.
Bosan sekali mendengar pembina upacara itu berucap. Ketika pengheningan cipta aku bukan menunduk dengan khidmat tetapi malah melongo kanan kiri dan menjinjitkan kaki.
Aku berada di ruang kelas kini. Mendengus kesal karena baru mengingat ulangan matematika jatuh pada jam pertama. Nilai di bawah rata-rata menanti karena aku sama sekali tak mengerti tentang perpecahan. Menghadapi urusan begini, aku selalu berusaha tenang. Raina pun begitu, malas belajar. Sedangkan Cio bersikeras ingin mendapat nilai paling tinggi.
Sekali itu Bu Desty yang sejak tadi sibuk merapikan barang-barang di meja memanggil namaku diiringi bel yang meraung memekakkan telinga. Namun aku hanya dapat menjawab “Belum, Bu! Bentar lagi..” Aku masih duduk di bangku kelas. Menggigit bibir. Menepuk kening lalu memutar pensil dengan kedua jari. Dengan begini mungkin jawaban yang kesemuanya angka itu akan berpijak di kepala secara tiba-tiba dan aku akan sangat mudah memilih satu dari 4 alfabeth yang berjajar di bawah soal.
Dari kisi jendela yang terbuka, Cio melihat aku tengah mendongak, mengharap sesuatu. Ia hanya bisa memberikan isyarat-isyarat dengan jari. Aku mengerti maksudnya, ia menyuruhku meneliti kancing seragam.
Ragu-ragu aku keluar juga dari tempat yang sungguh pengap itu, di sambut kedua kawanku.
“Tega banget nggak ngasih aku contekan?”
“Kamu sendiri kan yang bilang, nggak butuh bantuan dan janji nggak bakalan nyontek,” tutur Cio sambil melipatkan lengannya.
“Tau nih, kamu sok pinter sih. Kalo nggak bisa ya udah nggak usah di paksain! Ujung-ujungnya bergantung pada kancing baju juga kan? Kayak aku dong. Ngejawab sekenanya dan nggak pusing..”
Seseorang menepuk pundak Cio. Rupanya ia seorang kakak kelas. Aku dan Raina saling menatap lalu tersenyum.
“Kamu siswa paling pinter itu ya? Wah.. wah, hebat! Sampe kelas 4 sekarang masih bisa mertahanin ranking, bisa bikin puisi romantis juga, ya?”
Aku mengernyitkan kening merasa iri dengan kawanku yang mempunyai cita-cita tinggi nan mulia. Ia ingin menjadi guru sastra, katanya. Bagaimana bisa aku seperti dia sedangkan hobiku hanya tidur dan makan. Tak pernah sekali pun terlintas di benakku untuk memikirkan pelajaran dan masa depan. Nilai nol hampir selalu menjadi santapanku sehari-hari.
Besoknya, Bu Desty memberikan lembaran kertas ulangan. Giliranku ke depan dan hatiku berdegup kencang kala itu. Cio senyum-senyum sendiri menatap nilai sempurna yang ia peroleh. Sementara angka 2 tertulis jelas di samping kalimat “Tingkatkan terus belajarmu!”.
Kulemparkan kertas lusuh itu ke tempat sampah dan berlalu meninggalkan kelas. Berpuluh pasang mata menatapku tajam. Bantingan daun pintu menggema di ruang itu. Disusul sepasang kaki berjalan tergesa mengejarku hingga tampaklah di matanya sebuah taman sekolah dipayungi dedaunan pohon mahoni yang tertanam di pinggiran pagar. Di punggung taman itu berdiri sebuah kursi panjang, tempatku terduduk kini.
“Kamu hanya perlu belajar, tanya sendiri sama Cio bagaimana caranya. Dia bisa membantu kamu memperbaiki nilai itu,”
“Bu Desty, bisa nggak sih nggak nyebut-nyebut nama dia? Sekali aja! Nyebelin banget deh..”
“Nak.. Ibu kasian ngeliat kamu. Kamu punya semangat yang tinggi tapi sayang semangat itu tersembunyi sama rasa ketidakpercayaan kamu. Yakinlah sama ibu, kalau semangat itu hadir kamu bisa mengalahkan Cio,”
“Ibu!!! Udah jangan ngomong apa-apa lagi!” hardikku setengah berteriak.
Bu Desty hanya dapat mengusap dada dan tetap duduk di sampingku.
Orang tuaku di rumah nampak bangga karena anaknya tidak pernah mengalami remedial. Hasil ulanganku memuaskan, begitu kataku. Mereka percaya saja dengan bualan itu meski tidak pernah melihat bukti otentik. Selama ini aku membohongi mereka karena satu alasan, tak ingin mereka kecewa.
Sadar dengan kata-kata Bu Desty tadi siang, aku mulai membuka buku yang tak seberapa tebal. Remang-remang cahaya bola lampu menghiasi ruang tidurku. Baru saja setengah halaman. Kepalaku tertunduk di atas bantal.
“Pemalas!” pikirku dalam hati sambil mencoba untuk tetap membuka mata dan membaca rangkaian kosa kata ilmiah.
Beberapa hari berikut, aku memaksakan diri untuk menyentuh sekian buku pelajaran setiap malamnya.
“Siapa yang tahu apa yang di maksud dengan amplitudo?” tanya Pak Faizal, wali kelasku yang juga seorang guru Sains.
“Saya, Pak!” Cio mengangkat tangannya tingggi-tinggi, ” Peristiwa bergetar suatu benda dengan frekuensi yang sama,”
”Itu pengertian resonasi, Nak! Amplitudo adalah simpangan terbesar suatu getaran terhadap kedudukan diamnya,”
Pak Faizal kemudian menghampiriku yang tengah terlelap dalam duduk. Ia memerosotkan sedikit kacamata kecil yang mengait di lekukan hidungnya, mengguncang-guncangkan tubuhku dan berseru entah.
“Siap, Komandan! Hadap kanan!!” jawabku spontan diringi derai tawa penghuni kelas.
“Heh!! Kamu kira sekarang latihan baris berbaris? Dengerin bapak kalau sedang menerangkan,”
“Eh iy. Iya Pak! Saya cuci muka dulu ke toilet ya!” gumamku sambil mengucak mata.
“Urusan itu nanti. Sekarang bapak mau tahu sejak kapan kamu memulai mimpi?”
Aku gelagapan dan mencoba mencari tafsir, mungkin maksudnya sejak kapan aku tidur dan sejauh mana aku mendengarkan materi yang ia terangkan.
“Asas Doppler menyatakan bila..”
“Bila sumber bunyi bergerak mendekat, suara terdengar meninggi sedangkan bila sumber bunyi bergerak menjauh suara merendah,”
“Ok. Tapi bukan itu yang bapak maksud. Sumber bunyi itu apa sih?”
“Emh..” Aku memandang sekeliling yang membisu, “Benda atau alat yang dapat mengeluarkan bunyi, Pak!”
Pak Faizal menyunggingkan sedikit sudut bibirnya. Ia seolah mengejek ketololanku.
“Salah, ya Pak?”
“Tepat sekali. Dari mana kamu dapat jawaban itu? Belum bapak terangkan.”
Betapa aku bangga setelah dilempari butir-butir kata pujian oleh kawan sekelas. Sejak itu aku mulai optimis untuk mencatat kembali hal-hal yang aku dengar, aku lihat dan aku rasakan serta merangkum beberapa bab buku paket sebagai bahan kenaikkan kelas. Yang pasti aku bukan si pemalas yang kerap kali tidur di ruang kelas. Semangat itu tumpah semuanya kini laksana keyakinan yang tak terbendung dalam diri.
Benar saja aku menjadi pesaing terberat Cio kali ini. Bahkan aku dan Cio menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat daerah. Cio ditunjuk sebagai juru bicara karena ia memang pandai berucap kata. Aku hanya bisa membisikkan ia sejumlah jawaban yang mencengangkan audien.
Satu soal lagi untuk sekolahku Point SD Harapan Bangsa jauh tertinggal. Dengan atau tanpa menjawab soal terakhir pun kami tetap menyandang kemenangan. Dengan bangganya aku dan Cio serta sekolahku, SD Altavia 1 menerima piala perunggu sebagai juara 1.



LUMPUR DOSA
ANGIN pantai pangandaran menerpa pohon-pohon kelapa di pagi hari. Daunnya melambai lambai memangil para wisatawan untuk menikmati lembutnya pasir pantai dan hangatnya air laut, serta riangnya para nelayan menarik jala yang ditebarnya sejak semalam. Mereka berharap pagi ini banyak ikan yang terjaring di dalam jala.
Angin pagi itu berhembus masuk kesebuah Café di tepi laut, aruma pantai hari ini terkalahkan berita pagi yang disiarkan TV Swasta, tentang tertembak matinya Faturohman Al-Ghozi, sosok cerdas yang dituduh Amerika Serikat dan Barat sebagai tokoh Jemaah Islamiah di Asia Tenggara. Pemuda Mojorejo, Kecamatan Bojongsari, Madiun, yang sudah mempermalukan presiden Filipina, Gloria M, Aroyo, setelah kabur dari penjara tanggal 14 juli 2003, terkapar diterjang belasan peluru di Pigkawayan, cotabato utara, Filipina. Dia didakwa bersalah membawa bahan peledak ilegal dan ikut andil dalam peristiwa pengeboman di Filipina, Dessember 2000, yang menewaskan 22 jiwa!
Seorang remaja 18 tahunan, yang sedang sarapan dipojok ruangan, terpaku melihat layar kaca, nasi goreng masih ngumpul dimulutnya, belum lagi kembali mengunyahnya, berita lain muncul menjejali suasaan pagi yang masih perawan. Kali ini tentang jebolnya Bank BNI Kebayoran Baru Jakarta Selatan, sebesar 1,2 triliun! Poso yang kembali bergolak, rumah tokoh pers Goenawan Muhamad yang disita, kasus penganiayaan di IPDN Jatinangor Sumedang yang bikin heboh, serta lima orang anak kecil yang disodomi oleh pelatis sepak bola mereka!
Si remaja merasa kedua matanya dihujami pecahan kaca! ah.. liburan yang menyebalkan. Berita televisi itu masuk ke ulu hatinya dan langsung terasa mual ingin muntah! dia tidak berselera lagi meneruskan sarapan paginya. Betapa Negeriku makin carut marut dan penuh borok bernanah!
“Kenapa dengan berita di Televisi?” tiba tiba seorang laki laki berumur 45 tahunan, duduk di depannya.
Si remaja terkejut, kedua matanya meneliti lawan bicaranya, wajah lelaki itu semrawut dan ditumbuhi bulu bulu kasar, kedua matanya merah dan mulutnya melontarkan bau alkohol murahan!
“Jangan terlalu di ambil hati! Biasa, itu berita! Makin seru, makin banyak iklannya!”
Si remaja hanya mangut mangut.
Ekor mata si lelaki tertuju ke piring di meja.
“Kenapa?” si remaja merasa heran
“Sarapannya nggak di habisin?”
“Mau?”
“Si lelaki tetawa sumbang,
“Bekas saya?”
“Nggak masalah!”
Remaja itu berusaha tersenym sambil menggeser piringnya yang masih penuh dengan nasi goreng, menjauh dari hadapan lelaki semrawut itu.
“Pesan yang baru saja biar saya yang bayar!”
“Wah bagus itu !”si lelaki gembira “ Hey Sini!”.. teriaknya kepada pelayan.
“Pesan nasi goreng special! pake telor mata sapi dua!”
Si pelayan menatap ragu
“Dia yang bayar!”
Si remaja mengangguk.Pelayan menganguk dan begegas ke dapur .
Televisi yang diletakkan di dinding paling atas itu terus menyiarkan berita tentang betapa bopengnya zamrud Katulistiwa ini,betapa kanker sudah meranggas keseluruh sendi bumi nusantara yang subur ini. Masih ada harapan menuju gemah ripah loh jinawi, aman tengtrem kerta rahajo?
Sudah seminggu menghabiskan hari dipantai Pangandaran,dan hampir setiap saat dia melihat laki laki itu gentayangan di setiap sudut. Lelaki ini selalu dalam keadaan mabuk dan bertingkah seperti pengemis perlente,yang harus dikasihani.
Si lelaki menyudahi sarapan nasi gorengnya. Lalu menyambar gelas minumnya,menghabiskan sekali teguk. ”Nikmat!” Si lelaki mengusap bibirnya dengan punggung tangannya yang kotor, ”Nikmat ya hidup seperti ini?” Si lelaki tertawa puas “Tidak usah kerja cuma makan dan minum, butuh uang tinggal minta!”
Si remaja mencoba tersenyum, Si lelaki sengaja menatap ke wajah si pemuda, tiba tiba terbelalak buas,”Awas ya jangan macam macam sama anakku.”
“Anak bapak?” dia kaget sekali
“Iya! Si yanti gadis pantai itu!”
Dia terhenyak. Dia ayahnya? yang betul saja!?
“Pelayan, sini!” pangilnya bersemangat.”Dua botol! Teriaknya sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya.
“Sepagi minum pak?”
Lelaki itu tertawa sumbang. ”Minum adalah bagian dalam hidupku, tanpa itu tak ada artinya hidupku.”
Seorang pelayan datang terpogoh pogoh.Diatas baki yang dibawanya dua botol minuman keras bergoyang goyang.
“Ayo kita minum!” belum juga pelayan itu meletakannya dia sudah menyambarnya
“Nggak pak! Saya nggak minum!”
“Hah! Payah! Banci kamu! Laki-laki itu nggak boleh jauh dari rokok, minum dan cewek!” tawanya yang sumbang terdengar lagi, lalu dia memakan ujung botol itu, dia membuka tutup botol dengan giginya yang keras dan kehitam hitaman,”Aku pesan minuman ini atas nama kamu!” dia meludahkan tutup bootol yang berhasil dibukanya.
“Apa?” si remaja tidak terima.
“Kamu kan teman Yanti!” Dia terkekeh sambil menegak minumannya langsung dari botol. Tapi dia terbatuk batuk.tersedak,air api itu muncrat kemana mana.
Tiba tiba bola mata si remaja bergerak ke arah pintu, dia melihat Yanti berdiri gelisah disana.
“Kenapa, ada apa?” si lelaki semerawut mengikuti pandangan si remaja itu. Dalam sekejap wajahnya berubah keruh..
“Sontoloyo! Masih pagi pagi sudah ke kafe, mengganggu orang saja!”
Yanti kini sudah berdiri tegak di depannya.
“Ada apa?”
“Ibu, Pak! Ibu”
“Kenapa Ibu mu?”
“Ibu sakit pak!”
“Alah! Paling pusing biasa! Suruh tidur tiduran saja saja, ntar juga sembuh!”
“Ibu sakit, Pak!”
Si Bapak melotot ,kedua alisnya terangkat bibirnya bergerak gerak cepat ”Ibumu sebaiknya suruh mati saja, bikin bapak mu repot saja!”
“Bapak kok ngomong begitu sih sama ibu?” Yanti kecewa dan sedih.
“Bapak harus ngomong apa lagi? Bibirnya bergetar getar”bapak ini korban pe ha ka! Pengangguran! Mau bawa ibu kerumah sakit pake apa?pake dengkul?Jangan kan buat biaya rumah sakit,makan saja minta sama temenmu ini!
Yanti menatap ke remaja di depan ayahnya, ada rasa malu tersiat di wajahnya.Maafkan bapakku Rijal! Katanya menunduk.
“Ngak apa apa.”
“Kalau saja bapak tidak minum, uangnya kan bisa buat………..”
“Heh! Soal minum, itu urusan bapak!” semprotnya sambil menuding Yanti ”Lagian bapak tidak mengeluarin duit! Ridwan yang ngebeliin!”
“Kang Ridwan ?” Yanti makin kaget
“Iya! “ Ayahnya mengambil botol minumanyang kedua. Minuman yang ini, temanamu yang ngebelin !” matanya melirik ke si Rizal, sambil menggigit lagi bool yang kedua.
Wajah Yanti bereaksi, berubah merah. “Rizal? Kamu…..” Matanya beralih ke Rizal, yang kini tampak serba salah. Betul kamu membelikan bapak minuman?” tanyanya hati-hati.
“Ini buktinya!” ayah Yanti menunjukan dua botol minuman ke Rizal. ”Tanya saja sama pelayan!” matanya mencari-cari. “Heh! kamu, sini!” panggilnya. “Betul kan dia yang bayar minuman-minuman ini!” teriaknya seenak perut.
Pelayan hanya mengangguk dari kejauhan.
Rizal menahan napas sambil menggelengkan kepala beberapa kali. Kedua bola matanya memerah dan tajam menghujam lelaki berengsek, yang sedang asyik menenggak air api itu.
“Rizal kenapa kamu lakukan itu?” Yanti makin kecewa dan berlari meninggalkan kape.
“Yanti!” Rizal mengejar.
Ayah Yanti hanya tertawa keras menyaksikan tingkah putrinya dan Rizal, yang di matanya seperti kelakuan keledai “dasar anak-anak tolol ! Bodoh! Umpatnya larut terbakar air memabukan.
“Aku nggak mau berteman lagi sama kamu, Rizal! Yanti sudah menghilang di pintu kafe.
Dengar dulu Yanti, Rizal terus menyusul.
Tapi di pintu kafe, Rizal bertubrukan dengan lelaki berewok. Rizal terjengkang, seolah menubruk tembok.
“Heh! Sialan lihat-lihat., kalau jalan!” kedua tangannya menghentak tubuh Rizal.
Rizal makin terjengkang dan tubuhnya membentur kursi dan meja, sehingga berantakan.
“Matamu di taruh di dengkul apa?”
Rizal bangkit. sebuah kursi masih sempat di berdirikan.matanya menghujam kelelaki yang berawakan tinggi dan berewokan itu. Dadanya naik turun. Kedua tanganya terkepal. Ini sudah keterlaluan!
“Eh, malah nantang lagi !” si brewok merangsek dan kedua tangannya mencekal leher Rizal.
Rizal menahan bendungan amarahnya, agar jangan samapai jebol.
“Awas kamu, ya! jangan macem-macem sama Yanti!” Tapi Rijal masih terus menatap mata si Brewok.
“Heh, Ridwan! Sini! “ teriak ayah yanti ”Lepasin anak pelacur itu! Dia nggak ngapa ngapain kok sama yanti.”
Si Brewok yang bernama Ridwan melepaskan leher Rizal sekali hentakan.Rizal terdorong dua langkah. Terhuyung huyung, untung tembok pemisah ke ruang kasa menahannya. Rizalpun bersandar sambil mengatur nafasnya.
“Minggir kamu!” Ridwan menepiskan tangannya dan berlalu seperti badai di depan Rizal. Dia bergabung dengan ayah Yanti.
Rizal tak mau lama di sini.
****************************
Rizal menyender di batang pohon kelapa, Angin sore yang hangat menggeraikan rambutnya yang sebahu. Dia sedang menonton seorang juru kampanye menyemburkan busa mulutnya ke para nelayan.
“Pokoknya bapak bapak nyolos partai berlambang’ ikan ‘ dan ‘perahu’ ini si jurkan memperlihatkan gambar partainya.Nanti nasib bapak-bapak akan membalik seratus persen! Tigaratus enam puluh derajat!”Sijurkam menyapu pandangan dulu,” Bagai mana Bapak-bapak?”
“Bagai manaaaaaaa!!!” serempak para nelayan menjawab sambil tertawa tawa.
“Maksud saya, Bapak bapak Setujuuuuu?
“Bagaimanaaaaa!” Sambil tertawa tawa.
“Maksud saya Bapak bapak setuju?...
“Setujuuuuuu...!!” suara mereka seperti paduan suara.
‘’Nanti harga ikan akan naik, bapak bapak akan senang .rumah bapak akan direlokasi.Tau artinya di relokasi? Maksudnya, rumah bapak bapak yang kumuh itu,yang hanya dari papan triplek akan di ganti gaja. Tempatnya juga tidak di pinggir pantai, tapi pindah ketempat yang lebih baik. Setuju bapak bapaaaaaak?”
“Setujuuu!!!!”
“Jadi, setuju nyoblos partai ‘ikan’ sama ‘perahu’ ini?”
“Setujuuuuu!!!”
“Awas, jangan ketuker sama partai berlambang kapal pesiar itu juga ada gambar ikannya. Tapi, kalau partai kita, ikannya ikan cakalang, yang ‘kapal pesiar’ itu ikan louhan! jadi bedanya jauh, Bapak-bapak!”
“Jauuuuuuuuuuh!!!”
Kemudian beberapa orang bergabung dengan kerumunan para nelayan. Mereka membagi-bagikan kaos, stiker, dan bendera bergambar ‘perahu’ dan ‘ikan’, serta sebuah amplop. Para nelayan saling berebut dan wajah mereka berbinar-binar.
“Kaosnya dipakai ke mana saja boleh, Bapak-bapak. Ke pasar, ke hajatan tetangga, ke kantor kelurahan, ke Puskesmas atau sedang melaut juga. Stikernya ditempel di kaca rumah saja. Dan itu, amplop, yah……..alakadarnya saja. Cukuplah beli beras serta lauknya buat makan hari ini.”
Para nelayan kebanyakan tidak mendengarkan omongan si Jurkam kali ini. Mereka malah sedang asyik berebut. Bahkan jumlah mereka makin banyak saja ; saling berebut, dan ada juga yang saling sikut sana sini. Yang sudah satu, ingin dapat dua, yang dua ingin tiga, dan seterusnya…………..
“Jangan berebut, Bapak-bapak! Semua pasti kebagian! Kalau ternyata ada yang belum, besok kami datang lagi. Yang penting, semua senang berkat partai “perahu” dan “ikan”. Setuju Bapak-bapak ?”
Para nelayan makin banyak dan suasana sedikit tak terkendali.
“Bagaimana, Bapak-bapak? Setujuuuuu?”
Tetap tidak ada yang merespons.
Rizal menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi. Dia memilih kembali ke tenda, yang dia pasang di pinggir pantai.Ada ceruk karang yang menjorok ke pantai. Terlindung dari pasang dan angin. Kalau malam datang, Rizal paling senang naik ke atap karang dan terlentang disana menatap langit hitam dengan taburan bintang. Tapi sekarang dia bukannya hendak menikmati langit. Justru dia hendak berkemas. Liburan akhir tahunnya sudah habis.
Betapa kagetnya Rizal ketika melihat Yanti sedang duduk di depan tendanya dengan terisak-isak.
“Yanti, kenapa?” Rizal mengitari pandai, khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan tiba-tiba. Bagaimana pun, dia harus hati-hati dengan si brewok bernama Ridwan. Bahkan terhadap ayah Yanti sekalipun.
Yanti menangis, “Ibuku, Zal ……..Ibuku sakit ……”
“Kita bawa ke rumah sakit saja,” saran Rizal.
“Aku nggak punya uang banyak. Penghasilanku dari guide bulan ini menurun drastis. Turis-turis pada sepi saat liburan sekarang ini……”
Rijal merogoh dompetnya, menyerahkan dua lembar lima puluh ribuan,”Ini, terimalah….” senyum Rizal.
Yanti terpaku.
“Ayo, gak baik menolak kebaikan seseoarang……”
Yanti menerma uang pemberianRiza, ia menimbang – nimbang uangkertas itu.
“Sudah, jangan banyak pertimbangan!”
“Terima kasi jal kamu baik sekali.” Yanti terharu.
“Tidak seberapa itu.”
Yanti menerawang jauh dua tahun yang lalu sebelum krismon itu datang kami hidup bahagia sekali. Aku sekolah di SMA kelas 1 bapak kerja di pabrik dan ibi buka warung” yanti bercerita. Rizal mendengarkan dengan baik sekarang setelah bapak kena PHK semuanya menjadi berantakan sekolahku meski berhenti ibu jatuh sakit karena beban hidup makin berat. Apa lagi setelah bapa gila judi dan mabuk – mabukan.”
“Sudahlah gak usa terlalu di pikirkan hidup ,tiu berubah siapa saja bisa berada di bawah jika tuhan mau.
“Betul katamu Zal…….”
“Boleh saya tanya sesuatu……?”
“Tentang apa?”
“Pria brewok itu?”
“Kang Ridwan! Dia itu playboy kampungan! Istrinya sudah dua. Aku juga mau di lamarya jadi istri ketiga. Bapaku memang berengsek aku digadaikan sama Kang Rdwan supaya hutang-hutangnya lunas.”
“Yanti……….. jangan menyesali nasib gak baik. Sekarang masih ada yang lebih penting. Ibumu. Ayo bawa ibumu kerumah sakit!”
Yanti mengangguk
“Oya, Zal……….maafkan soal tadi di kafe. Aku tau kalo kamu belikan bapakku minuman. Sori ya zal, aku lagi emosi tadi.” Yanti menyesali perbuatanya.
Rizal mengagguk dan tersenyum. Lalu Yati pergi, matanya menyimpan rasa terimakasih yang tidak terhingga pada Rizal.
*********
Rizal sudah merubuhkan tendanya, kemudian mengepaknya ia tidak boleh lama-lama meningalkan rumah ia harus kembali ke sekolah libura sudah usai.
Tapi, tiba –tiba Ridwan dan dua anak buahnya mengepung, Rizal waspada.
“Sudah aku bilan, jauhi Yanti dia calon istriku! Aku tau anak macam kamu sok petualang! Selalu menyakiti cewek – cewek di semua tempat yang kamu singgahi!”
Rizal mengeleng ”Aku gak ada hubungan apa – apa sama Yanti aku cuma simpati saja ibunya sakit sekarang mesi cepet-cepet di bawa kerumah sakit.”
“Aalah banyak omong kamu! Soal ibunya Yanti itu buka urusan kamu jangan sok jadi pahlawan!” Riwan menudingnya sambil menyuruh kedua anak buahnya menyerang Rizal.
“Kalo bukan urusan aku harunya anda yang mengurusinya. Yanti kan calon istri anda!” Rizal mengingatkan.
“Ah berengsek kamu! Anak kecil sudah berani menasehati orang gede! Sambil menyerang Rizal.
Rizal kali ini melawan Ridwan bahkan memukul mundur mereka. Ridwan tidak menyangka kalau Rizal punya ilmu bela diri Ridwan dan kedua anak buahnya kocar kacir.
“Pengecut! Banci!” Rizal memaki – maki sendiri.
“Rizal menyandang raselnya ia melintasi Rumah Yanti.
Rizal terkejut. Ia melihat Yanti meronta-ronta di pelukan seorang nelayan.
“Rizal!” Yanti berlari kearahnya
“Kenapa Yanti? Ibumu?” Tanyanya cemas.
“Ibu, Rizal, ibu!” …….Yanti menangis.
Rizal cuma bisa memberi kekuatan lewat perhatiannya.
Tiba-tiba ayah Yanti muncul ayah Yanti menarik Rizal. Memukulnya.
“Heh! Berengsek! Siapa datang kesini!” Ayah hardik limbung.
“Bapak! “ teriak Yanti menangis.
Rizal meraba bibirnya yang berdarah Yanti berlari mendekati Rizal.
“Rizal, maafkan Bapaku ya. Dia mabuk!”
Ayah yanti marah sambil melihat sekeliling. “Heh ada apa rame-rame! Ayo kalian pergi dari sini!”
Orang-orang dengan nyinyir menninggalkan rumah Yanti.
“Ibu, pak, Ibu…….!” Yanti menangis
“Biarkan saja ibumu mampus itu lebih baik buat dia ketimbang hidup menderita.” Ayah Yanti berusaha masuk kerumahnya.
Tapi, belum juga masuk kedalam rumah, tiba-tiba muncul tiga orang polisi meringkus ayah Yanti, tentu saja Ayah Yanti merota dan melawan.
Yanti panic. Rizal meminta penjelasan pada polisi kenapa Ayah yanti di tangkap.
“Bapak terlibat dalam perampokan toko elektronik minggu lalu. Saksi dan bukti mengarah pada Bapak.” Kata seorang polisi.
Yanti menjerit tida percaya” Bapaaaaak!. Betulkah itu?”
Ayah Yanti cuma bisa menunduk. Yanti mejerit dan memukul tubuh ayahnya dengan histeris. Rizal mengatupkan gerahamnya. Ada rasa marah menggerogoti jiwanya dan ia tidak bisa mengbah kejadian ini. Dia hanya bisa jadi penonton aja.
************
Rizal baru saja sampai dia melihat rumahya yang mewah dan megah kini kosong melompong tidak ada ayah tidak ada ibu juga yidak ada kakak perempuanya. Rizal dengan kesal melemparkan ranselnya ia berteriak memanggil pembantunya ”Bik Isaaaah!” Teriaknya kesal.
Bik Isah tergopoh - gopoh muncul dari arah dapur “Pada kemana mereka, Bik? Papa sama sama?”
“Tuan ke Amerika, den…..Nyonya shoping ke singapura….”
“Kak Tina?”
“Non Tina….” Bik iasah dengan bingung melihat ke lantai atas.
Belum juga Bik Isah menjelaskan, muncul di anak tangga Tina yang berjalan mengandeng Boby. Mereka tertawa- tawa sambil memegang botol miuman keras. Pakaian Tina acak-acakan .
Rizal tampak marah sekali.
Tina tersenyum melambaikan tangannya. Boby juga begitu. “ Heh baru datang lu, zal? Gimana kempingnya?” Tina sok memperhatkan.
“Gue jalan dulu, ya, zal! Sekarang giliran lu jagain rumah, ya!”
Tiba-tiba Rizal menjambret kerah baju bagian belakang Boby hingga tersungkur. Tanpa ampun lagi, Rizal menghajar Boby. ”Lu peri dari rumah gua! Pergi!” Beberapa pukulan mendarat di muka Boby.
“Heh gila lu, Zal!” Tina menjerit-jerit
Rizal menendang tubuh Boby hingga jumpalikan ”lu jangan sampai datang ke rumah gue lagi!”
Boby kocar kacir.
“Lu keterlaluan, Zal!” Tina menudingnya
Rizal menarik tubuh kakaknya “Mulai sekarang semua yang ada di rumah ini mesti nurut. Nggak boleh ada cowok asing masuk ke rumah ini apalagi sampai menginap segala!”
“Apa-apaan si lu!”
“Cepet mandi! Jijik gue!”
Tina menangis.
Rizal terduduk di lantai Tiba-tiba ia ingin pergi dari rumahnya, ia ingin meringkuk didalam tenda selamanya. Tapi kalo tidak begini, siapa yang bisa menguah rumahnya yang penuh lumpur Dosa?


SEJOLI CINTA BINTANG REMAJA
Di atas sajadah, Gayatri bersimpuh. Subuh yang dingin, melahirkan suasana hening. Begitu tenang. Begitu pasrah. Gejolak perasaannya tertumpu pada yang tunggal, titik terang keabadian.
“Ya, Allah. Berikan kekuatan kepada ibuku.”
Ibu Gayatri masih terbaring, menahan rasa sakit yang menekan. Sudah sebulan, sakit kanker mendera tubuhnya. Harta peninggalan almarhum suaminya, banyak terkuras. Sedngkan penyakit tak juga sembuh. Dalam perjuangan melawan rasa sakit, mendadak hatinya luluh, tatkala mendengar suara seorang gadis mengaji. Rasa sakitnya sirna sejenak. Ia meresapkan suara itu. Suara yang dikenalnya mengalun tiap malam dan subuh. Mata tua yang cekung itu berkaca-kaca.
“Tri,” sendatnya. Pelan. Seperti tak mau didengr yang punya nama.
Suara Gayatri kedengarannya semakin lembut. Semakin mengelus. Semakin menggugah. Semakin mengantarkan ke sebuah tempat yang asing dan rahasia. Tempat istirahat yang sejuk dan nyaman. Tempat yang melenyapkan rasa sakit. tempat yang belum pernah terjamah.
Seorang bidadari berpakaian serba putih, tiba-tiba menjelma di hadapannya. Ibu Gayatri terpaku. Bidadari tersenyum, lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Allahu Akbar,” Ia menyeru dengan yakin, mengikuti bisikan bidadari. Kemudian disambung dengan dua kalimat syahadat.
Matanya mengatup.
Pasrah.
Dan bidadari membawanya terbang jauh, ke asal segala sunyi.
Gayatri tersentak. Seperti ada suara gaib, yang menyuruh menggerakkan langkah ke kamar ibunya.
Gayatri tertegun,
Lunglai.
Kini beban tertumpu kepada Gayatri. Tiga orang adiknya yang sedang mekar, telah menyita perhatianya. Insan, kelas dua SMA. Istiyarti, kelas tiga SMP. Dan Yadi, kelas enam SD.
Meskipun baru berusia dua puluh satu tahun, sebagai puteri tertua, Gayatri sudah dihadapkan kepada setumpuk persoalan hidup. Kuliahnya di Fakultas Ekonomi menjadi goyah.
Dalam keadaan kalut, ia harus menentukan pilihan; kuliah atau bekerja ?
Maunya Gayatri terus kuliah. Maunya hanya memikirkan pelajaran saja. Maunya mengecap masa muda yang ceria. Tapi tak mungkin. Mustahil. Rasa tanggung jawab sebagai pengganti orang tuanya, begitu melekat dalam hati Gayatri. Sejak kecil, ia sudah diajari bertanggung jawab. Membantu pekerjaan itu, mengasuh adik, bahkan menunggu rumah. Keyakinannya akan rasa tanggung jawab makin terasa kokoh, berkat gemblengan dari Pesantren.
RUMAH POHON MICHAEL
Bagi Michael sore hari di bulan Juli siang itu tampak berlangsung lama sekali. “Bila aku masih tinggal di Annandale, banyak hal dapat kulakukan,” pkirnya. Tetapi dua minggu sebelumnya, ia dan ibu dan ayah pindah ke sini. Sampai sekarang ia belum mempunyai teman.
Sebelum pindah, ia punya banyak teman, dan ia menyukai sebagian besar dari mereka. Tampaknya tidak masalah baginya bila tidak punya saudara laki-laki atau perempuan. Sekarang rumah tampak sangat sepi pada saat ia sendirian di rumah. Ia memperbesar volume radio kasetnya, mencoba mengisi ruang-ruang yang kosong. Bahkan sekarang musik pun tidak membantu.
Kemudian ia membuat suatu penemuan. Begitu aya memasukkan mobilnya ke garasi, Michael mengejutkannya. “Apakah Ayah lihat barang-barang yang ditinggalkan orang lain?” Dapatkah aku mengambil papan-papan berukuran setengah kali satu meter, dan jendela-jendela tua yang bekas terkena badai, dan papan-papan yang bersandar di dinding?”
Ayah mengangkat tangannya. “Hai, tunggu dulu! Mengapa kau membutuhkannya?”
“Aku dari dulu ingin memiliki sebuah rumah pohon. Kita belum pernah mempunyai tempat untuk membuatnya sebelumnya.”
“Hmmm,” kata ayah, tidak tampak terkejut. Michael selalu memikirkan proyek-proyek. “Di mana kau mau mendirikannya?”.
Michael membawa ayahnya ke halaman belakang dan menunjuk kepada sebuah pohon besar. “Lihat dua cabang itu!” Sambil berjalan memutari batang pohon itu, ia menunjuk ke atas. “Pintunya bisa tepat di sinik, dan tangganya di sisi ini.”
“Hmmm,”kata ayah lagi.
“Tiga jendela – satu di masing-masing sisi, kecuali di sisi yang ada pintunya/”
“Yahhhh,” Ayah berjalan mengelilingi pohon itu, memeriksanya dari setiap sudut. “Ya, boleh juga. Tetapi Ayah akan membantu sedikit sehingga kita dapat membuatnya dengan aman.”
“Setujuuuu...!” seru Michael.
Dan kemudian, mereka mulai bekerja. Ayah dan Michael pergi ke toko kayu dan membeli kayu yang sangat panjang berukuran setengah kali satu setengah meter. Malam itu mereka memaku salah satu dari kayu-kayu itu melintasi dua cabang dan di atas batang pohon itu. Mereka menggunakan kayu yang lain sebagai dasar tambahan, sambil dibentangkan ke pohon maple di dekatnya.
Pagi hari berikutnya Michael dan ayahnya meneruskan pekerjaan mereka. Mereka segera menyelesaikan dasar lantai. Kemudian dinding-dindingnya ditegakkan.
Akhirnya rumah pohon itu selesai. Ayah menuruni tangganya.
“Baiklah, Michael, ini adalah milikmu ?”.
“Hai, benar,” kata Michael. Rasanya bangga sekali dengan apa yang telah dilakukan mereka. “Ini semua milikku !”.
Pada saat itu seorang anak laki-laki mengendarai sepedanya melewati gang itu. Sambil melihat kepada rumah pohon itu, ia mengeram dan berhenti. “Namaku Jack” katanya kepada Michael. “Aku tinggal dua blok dari sini.”
Michael segera memperkenalkan dirinya sendiri, Jack berseru, “Sebuah rumah pohon yang sangat indah !, dapatkah aku menaikinya, Mike?”.
“Oh, pasti,” kata Michael, sambil merenung tampaknya aneh dipanggil Mike lagi. Hanya teman-temannya di Annandale memanggilnya demikian. Satu demi satu anak tangga dinaikinya dan ia naik lebih dulu.
Jack mengikutinya. “Wah!” serunya, sambil memandang ke luar jendela. “sungguh akan menjadi tempat pertemuan yang luar biasa !”.
Sesaat muncul suatu harapan di dalam hati Michael. “Sebuah tempat pertemuan?” Sambil bergabung dengan Jack di sebuah jendela, ia memandang ke bawah melalui dedaunan. “Apa maksudmu?”.
“Jim, Randy dan saya mempunyai sebuah perkumpulan. Kita memiliki suatu tempat untuk bertemu.”
Akankah aku memiliki beberapa teman?”. Michael bertanya-tanya. “Mungkin menyenangkan!” Tetapi ia takut membiarkan dirinya berharap.
Kemudian muncul suatu gagasan yang tidak menyenangkan. “Bagaimana kalau mereka merusak rumah itu?” Di Annandale ia meminjamkan sepedanya kepada seorang anak. Ketiak anak itu merusaknya, ia tidak pernah meperbaikinya.
Sambil mengenang sakit hatinya, Micahel berpikir-pikir apa yang harus dikatakan. Ia masih bertanya-tanya ketika ia mulai kembali menurini tangga itu. “Aku ingin teman-teman baru,” pikirnya. “Tetapi aku taku. Apa yang harus kulakukan?”.
Pada saat Michael tiba di atas tanah, ia menemukan pemecahannya. ”Aku akan menunjukkan kepada mereka bagaimana merawatnya.” Pikirnya. “Kita kan memiliki beberapa peraturan.”
Pada saat Jack meloncat menaiki sepedanya, ia tersenyum. “Sampai jumpa lagi, Mike. Aku akan mengajak teman-temanku ke sini. Setuju ?”
“Setuju !” kata Mike. Dan hatinya juga menyetuji gagasan itu.
TEKO JEPANG
Setiap pagi Widodo keluar dari gubuknya , meninggalkan istri dan tiga anaknya membawa plastik murahan berwarna hitam , sudah seminggu ini persedian beras dirumah semakin menipis . istrinya meratap tetapi Widodo hanya mengatakan supaya menunggu beberapa hari “ aku akan pulang dengan tas hitam ini penuh dengan uang “.
Dengan hati-hati dibukanya plastik hitamnya dan dikeluarkannya sebuah bungkusan yang kelihatan gawat . dipegangnya bungkusan itu dengan sangat hati-hati , tangan istrinya dia larang menyentuh “ awas nanti pecah . Teko Jepang ini hanya boleh dipegang oleh tangan yang ahli . kau tahu berapa usia teko ini ? “
“ Bukalah ! ‘ pinta Istrinya.
“ Tak Usah . usia nya sudah mencapai 18 Abad , tahu kau ? Teko ini dibuat ditiongok pada zaman Dinasti Nang . bahkan dengan teko inilah dulu kala para duta Cina dan Sriwijaya mengadakan upacara minum teh . dan kau tahu, berapa harganya ? “ tanyalah lagi tapi yang bukan mengharap jawaban.
“ Entahlah! tapi beras kita hampir habis ! keluh istrinya
“ Tenang saja harga teko ini lima belas juta rupiah “ Katanya. Ia lalu memasukan tekok kedalam bungkusan dan terus ke Tas Plastik hitamnya kemudian dia pergi mencari Mister Tammy.
Di depan Mr. Tami Tammy , widodo membuka bungkusan teko antiknya , juga tetap dengan sangat hati-hati . Tangan lelaki itu gemetar . di kepalanya terhayal uang jutaan rupiah yang menggodanya , beterbangan di lantai kamarnya, kemudian mobil mengkilap dan rumah baru.
Lama Widodo membiarkan korbanya itu takjub. Dikihat bagaimana Miste Tammy melotot seolah-olah berhadapan denga karya seni yang terbesar di dunia. “ alangkah menakjubkan! “ bisiknya.
“ Berapa harganya ? “ tanya Mister Tammy tampa menyentuh .
“ Lima belas juta, Mister . Halus sekali snetuhlah ! “
“ Tidak . aku tak berani menyentuh banda antik seindah itu “
“ Tak bisa kurang sedikit ? ‘
“ Tentu saja bisa , Mister . dalam perdagangan seperti Tuan maklum , harga bisa damai. Apalagi mister pencinta benda seni !’
Tammy bangkit kemudian kebelakang. Fia menulis sepucuk surat untuk tuan Wahyono. Daia suruh pelayan cepat mengantarkan surat itu.
“ Aku minta bantuan tuan Wahyono untuk menilai harga Teko ini. Dia adalah ahli keramik. Rumahnya di sebelah situ , ujar Tammy setelah kembali duduk didekat tamunya.
“O, baik sekali, Mister. Itu lebih pasti,” kata Widodo lega.
“Aku minta kau bersikap luwes dalam soal harga,” bisik Mister Tammy.
“Pasti. Kita tunggu saja apa kata ahli keramik itu tentang teko ajaib ini. Kata yang punya dulu, teko ini bisa menangis kalau malam Jum’at.”
“Menangis? Kau sungguh-sungguh?”
“Yaa, buat apa saya membohongi anda, Mister?”
“Aku pernah bermimpi, memiliki teko yang bisa menangis.”
“Oh, lihatlah, Mister. Bulu romaku berdiri!” jerit Widodo.
Kemudian datang Tuan Wahyono dengan buru-buru. Sebagai ahli keramik, dia sudah menyatukan seluruh kehidupannya dengan keramik yang telah jadi fosil kehiduapan. Dia pegang teko itu dan mengamatamatinya secara cermat melalui kacamata tebalnya. ”Alangkah indahnya, keramik ini, “ katanya dingin dan mata Widodo bersinar-sinar. “Sayang sekali ujungnya agak retak. Naganya bagus!”
Kudua lelaki yang mendengar komentar ini tak berani membuka mulut. “Ini adalah teko buatan Jepang,” kata tuan Wahyono kemudian. Teko tadi lalu dislentik-slentiknya, sehingga berbunyi, tig, tig, tig. “Tapi sayang sekali. Tam, usianya ,masih muda sekali. Lihat, ini! Suaranya tidak bening, kan. Kalau kaeramik antik bunyinya ting-ting-ting. Bukan tig, tig, tig. Dan keramik kuno tidak punya bentuk semacam ini. Ini jelas keramik Jepang yang masih muda sekali usianya!” sambungnya dengan kata datar.
“Berapa kira-kira harganya?” tanya Tammy tiba-tiba .
“Begini Tam,” sahut Wahyono si ahli keramik. “Teko ini murah sekali. Tetapi sepuluh abad lagi akan mahal. Ini adalah teko yang dibuat Jepang pada tahun empat puluhan dan dibawa kemari. Tentu saja harganya murah. Kira-kira dua ribu peraklah, begitu. Ini bukan benda kuno sama sekali, kecuali sepuluh abad lagi kelak!”.
Baik Tammy maupun Widodo mulai menyadari bahwa keduanya amat terkejut. Impian masing-masing telah buyar. Teko yang bisa menangis dan selamat tinggal kemelaratan! Datang tuan Wahyono membangunkan mereka dengan kata-kata sedemikian datar dingin, sehingga Widodo merasa beku seketika.
“Sungguh? Bukan buatan dari Dinasti Nang delapan belas abad yang lalu, teko ini?”
“Bukaaaan. Ini buatan Jepang. Indah, tapi dari tahun 40-an.”
Tuan Wahyono bangkit. Pulang.
.....

Artikel Terkait:

0 komentar:

Homepage Link