Your Ad Here

Jumat, 24 Desember 2010

CINDERALYSSA

untuk Alyssa Soebandono


Desember kali ini berderai-derai. Barangkali
awan gemawan di langit pada akhir tahun
memang cengeng, cengeng sekali. Barangkali
setiap genting di setiap rumah kini gerah ingin mandi.
Tengoklah, di tepi jendela kamarmu saja,
bertengger sepasang sepatu kaca yang telah jadi basah.
Berlinangan.

Menyusup dari celah pintu percik embun yang
kemudian menjelma sesosok peri rupawan.
Sebutlah ia Peri Hujan.
Sebut saja tiga kali, maka petir bisa menyambar.
Peri Hujan pun akan menjitak kepalamu
keras-keras dan bilang, “Aku tidak budek, tahu!”

Desember kali ini berderai-derai.
Peri Hujan juga berderai-derai saat datang
menghampirimu dengan langkah tergesa.
Ada sejumput haru tercetak dalam di wajahnya
yang ungu.

Peri Hujan mengacung-acungkan kotak mungil
bertalikan pita, lalu bersorak hingga serak seperti
telah menelan habis sepuluh biji nangka.
“Huah.. Hujan hari ini mengantarkan satu bingkisan
dari istana Kerajaan Waktu!”

“Buatku? Apa, ya, isinya?”

“Undangan! Isinya sepucuk surat undangan untuk
menghadiri pesta dansa. Ini langka.
Seorang pangeran mengundangmu. Bisa kau bayangkan?
Oh, tidak bisa. Tidak ada sedetik pun waktu untuk
membayangkan hal itu. Kau mesti bergegas!”
timpal Peri Hujan sambil mengayunkan tongkatnya.

*ting*

Lantai-lantai kosong sekonyong-konyong dilandasi
meja berbaling-baling yang mendarat dari mana entah.
Kucing gondrong menyulam ribuan helai bulu-bulunya
menjadi gaun anggun bergembung
yang lekat, yang ketat, dalam selekuk tubuh.
Debu-debu di laci almari pun mengkristal
menjadi butiran berlian
yang pekat, yang rekat, dalam selingkar leher.

Di tepi jendela, bertengger sepasang sepatu kaca
yang telah jadi kering. Berkerlap-kerlip dibumbui
bebintangan, dikelitiki rerambut pirang matahari.
Kau mengenakannya dengan canggung dan
malu-malu.
Sekali-dua terjatuh. Berkali-kali tersenyum.
Senyuman yang canggung dan malu-malu.

Tak habis akal, sebongkah labu disihir Peri Hujan
menjadi sepotong kue tart dan dua buah cherry.
Lantas, sembilan belas pasukan tikus bercicit,
tak sabar ingin memasang topeng kebanggaan mereka.
Hingga kini, tampaklah wajah-wajah monyong itu
menjadi sembilan belas batangan lilin.
Berberderet-deret, tegap dan terang.

Begitu kesembilanbelas lilin itu selesai kautiup,
kata Peri Hujan, lekas temui sang pangeran!
Kalau tidak, alangkah kau akan terkejut mendapati
sepatumu yang pecah, gaunmu yang tinggal robekan,
butir-butir berlian yang menanggalkan lehermu kemudian
berlarian kembali ke laci almari, dan lagi.. kau tidak
akan tahan menyaksikan tikus-tikus monyong yang
nantinya membangkai gosong—terbakar api lilin.

“Bagaimana dengan jam dua belas malam?” kau
bertanya.

“Tidak ada angka dua belas dalam jam-jam
seorang penyair. Oh, tidak ada.
Segalanya tidak berakhir begitu saja pada jam dua belas.
Itu bualan dan hanya mungkin terjadi dalam
dongeng kanak-kanak. Kau ini bagaimana sih!”

“Maaf, Peri Hujan. Bukankah ini juga adalah sebuah
dongeng kanak-kanak? Dongeng yang bercerita
tentang Peri Hujan di Bulan Desember.”

“Bukan. Ini kartu ucapan. Ah, sudahlah. Tak usah
banyak berpikir. Sana kamu, hadiri pesta dansa itu!”

“Ng, bisakah kau katakan dulu, yang mana
pangeranku?”

Desember kali ini berderai-derai. Barangkali
awan gemawan di langit pada akhir tahun
memang cengeng, cengeng sekali. Barangkali
setiap genting di setiap rumah kini gerah ingin mandi.
Seketika tongkat ajaib itu mengarah cukup jauh
pada sesuatu. Peri Hujan menjawab,
“Ialah yang kini duduk gusar ditengah kepingan kaset.”

Sejenak kau melihatnya. Pangeranmu!
Ia bukan  menjadi bunga dari mimpi-mimpi semata.
Berjubah  biru. Bercelana krem. Berlonceng pula!
Blasteran antara badut Doraemon dan Jim Sturgess.
Kumisnya tipis. Rambutnya cepak. Telinganya rombeng.
Setara sekali dengan make up dan stelan kebesarannya
yang gendut.

Pangeran itu tampak sedang menyiapkan
lagu hits The Beatles untuk diputar.
Namun, lanjut Peri Hujan,
jangan kau meminta darinya sepatah kata lamaran,
sebab dia bisu.
Sampai di sana, kau hanya tinggal membiarkan dirimu
dibawanya hanyut berdansa.

“Siapa dia? Bolehkah kutahu namanya?” kau
bertanya lagi, pelan-pelan, sebelum beranjak
turun ke lantai.

“Namanya Usia Baru. Kau akan berdansa dengan
Usia Baru, Cinderalyssa!”

Cianjur, 2010

Artikel Terkait:

2 komentar:

mala si malae mengatakan...

Sangat-sangat bangga punya adaek yg jago tulis-menulis ini, setiap ide yang dikeluarkan segar seperti air terjun yang menuntaskan dahaga...

I Like it so much,

Berharap seseorang yang jelas engkau maksudkan dlm cerita ini bersedia meluangkan waktu untuk membaca ini.

Terus berkarya!

Izal Vizard mengatakan...

oh, ternyata CINDERALYSSA tuh ini ya ! ^^, bagus !

TERUS BERKARYA ya ! ^^,

Homepage Link